Artikel

Art of Local Wisdom in Sustainability

Daniella Terencetia

Daniella Terencetia, Keshia Shabirah

October 5, 2026 • 3 min read

LinkedInX
 Art of Local Wisdom in Sustainability
    Dirangkum oleh AI. Baca artikel lengkap untuk detail lebih lanjut.

    Kalau ngomongin sustainability, apa yang langsung terlintas di pikiran Kampus Mania? Carbon footprint? Zero waste? Atau malah istilah-istilah yang sering muncul di Instagram tapi sebenarnya masih suka bikin bingung?

    Fun fact, menjaga alam ternyata nggak selalu harus dimulai dari teknologi canggih atau istilah-istilah modern! Jauh sebelum istilah sustainability populer seperti sekarang, masyarakat di Indonesia sudah punya cara sendiri untuk menjaga hubungan dengan alam. Bukan lewat aplikasi, bukan juga lewat kampanye di media sosial, tetapi lewat aturan dan kebiasaan yang diwariskan turun-temurun. Salah satunya adalah Sasi yang dikenal di Maluku dan Papua.

    Tapi, apa itu Sasi?

    WhatsApp Image 2026-10-04 at 20.25.43.jpeg

    Sasi merupakan aturan adat yang mengatur kapan suatu sumber daya alam boleh dan tidak boleh diambil oleh masyarakat. Jadi, ada waktu tertentu ketika hasil laut, hasil hutan, atau sumber daya lainnya dibiarkan begitu saja dan nggak boleh dimanfaatkan. Setelah melewati waktu yang sudah ditentukan, sumber daya tersebut baru boleh diambil kembali. Dengan begitu, masyarakat nggak terus-menerus mengambil apa yang tersedia di alam. Ada sesuatu yang boleh diambil, ada sesuatu yang harus ditunggu, dan ada waktunya manusia harus berhenti mengambil.

    Cara masyarakat menjaga alam melalui aturan, nilai, dan kebiasaan yang diwariskan seperti inilah yang kemudian dikenal sebagai kearifan lokal. Kearifan lokal sendiri nggak cuma soal tradisi atau kebudayaan yang menarik untuk dilestarikan, tetapi juga bisa mencerminkan bagaimana suatu masyarakat memahami lingkungan di sekitarnya. Dalam kasus Sasi, misalnya, ada kesadaran bahwa alam nggak bisa terus-menerus dimanfaatkan tanpa memberikan kesempatan untuk kembali pulih.

    Tapi kalau dipikir lagi, prinsip seperti ini justru menjadi semakin menarik ketika kita melihat kondisi lingkungan sekarang. Kita hidup di zaman ketika kebutuhan manusia semakin banyak. Pembangunan terus berjalan, industri semakin berkembang, dan pemanfaatan sumber daya alam juga semakin besar. Di tengah kondisi seperti ini, konsep untuk memberi alam waktu beristirahat tentu terdengar menarik. Namun, apakah cara yang sudah digunakan masyarakat sejak dulu tersebut masih cukup untuk menghadapi persoalan lingkungan yang sekarang skalanya jauh lebih besar?

    Dari fenomena yang terjadi, ada satu hal yang bisa kita perhatikan. Mungkin kita perlu melihat kearifan lokal dengan cara yang berbeda agar tidak sekadar menjadi romantisme masa lalu. Dari sini kita bisa melihat bahwa kearifan lokal bukan hanya tentang tradisi yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya tetapi terdapat nilai dan cara pandang masyarakat dalam memperlakukan lingkungan. Sasi, misalnya, menunjukkan bagaimana masyarakat mengatur pemanfaatan sumber daya alam dengan memberikan waktu bagi alam untuk pulih. Nilai seperti ini tentu masih relevan ketika kita membicarakan keberlanjutan lingkungan saat ini, terutama ketika pemanfaatan sumber daya alam semakin besar seiring dengan perkembangan zaman

    Kondisi lingkungan yang kita hadapi sekarang sudah jauh lebih kompleks. Industrialisasi, pembangunan, kebutuhan ekonomi, hingga perubahan iklim membuat persoalan lingkungan nggak lagi hanya terjadi dalam lingkup satu komunitas. Apa yang terjadi di satu wilayah bisa berdampak ke wilayah lainnya. Karena itu, kearifan lokal seperti Sasi menarik untuk dilihat kembali, bukan hanya sebagai tradisi yang perlu dilestarikan, tetapi juga sebagai nilai yang mungkin masih bisa memberi kita cara pandang dalam menghadapi persoalan lingkungan masa kini.

    Tapi Kampus Mania pasti masih bertanya-tanya, sebenarnya seberapa efektif sih kearifan lokal dalam menjaga alam ketika berhadapan dengan industrialisasi dan krisis iklim? Apakah nilai-nilai tersebut masih cukup untuk menjawab tantangan lingkungan yang kita hadapi hari ini? Yuk cari tahu lebih lanjut bersama kami dalam siaran Nusantara VS Episode 5 : Nusantara VS Sustainability pada Senin 4 Oktober 2026, pukul 19.00 WIB only at www.8ehradioitb.com

    TagsSustainabilitySasiBudaya
    Daniella Terencetia

    Written by

    Daniella Terencetia

    Keshia Shabirah

    Co-Author

    Keshia Shabirah