News

Rupiah Melemah, Tanda Indonesia Tidak Baik-Baik Saja.

Management Board 8EH Radio ITB

Management Board 8EH Radio ITB

June 21, 2026 • 10 min read

LinkedInX
Rupiah Melemah, Tanda Indonesia Tidak Baik-Baik Saja.
    Dirangkum oleh AI. Baca artikel lengkap untuk detail lebih lanjut.

    Perlukah Kita Khawatir?

    Pada bulan Juni 2026, Rupiah diperdagangkan pada kisaran Rp17.700-17.900 per dolar AS, setelah sempat menyentuh titik tertingginya pada Senin, 8 Juni 2026 di angka Rp18.171, mendekati titik terlemah dalam sejarah Indonesia. Nilai Rupiah tercatat melemah sekitar 8,64% jika dibandingkan dengan posisi 1 Januari 2026 yang masih berada di angka Rp16.725. Pelemahan ini dinilai sangat drastis, mengingat sepanjang tahun 2025 Rupiah hanya melemah sekitar 2,89%. Artinya, hanya dalam enam bulan pertama tahun 2026, Rupiah sudah melemah hampir tiga kali lipat dari tahun sebelumnya.

    Sebagai negara berkembang, Indonesia masih memiliki ketergantungan terhadap aktivitas perdagangan internasional, baik dalam bentuk impor bahan baku industri maupun barang konsumsi. Dampak pelemahan Rupiah ini telah dirasakan masyarakat pada harga kebutuhan pokok, khususnya komoditas dengan persentase impor tinggi seperti kedelai bahan baku tahu dan tempe yang naik hingga 18-22% dan pupuk non-subsidi yang melonjak lebih dari 50%. Sekretaris Jenderal Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi), Reynaldi Sarijowan, menjelaskan bahwa sekitar 30-40% kebutuhan pangan dan bahan Industri Indonesia masih bergantung pada pasokan luar negeri. "Saat Rupiah turun, biaya impor langsung membengkak, dan biaya itu otomatis diteruskan ke konsumen akhir," ujarnya. Berikut daftar barang kebutuhan masyarakat yang harganya berpotensi ikut melonjak akibat pelemahan Rupiah:

    1. Perangkat elektronik seperti ponsel dan mesin cuci yang komponennya berasal dari luar negeri.
    2. Kendaraan bermotor dan onderdilnya yang masih bergantung pada pasokan global.
    3. Bahan pendukung pertanian seperti pupuk yang menjadi kebutuhan vital petani di desa.
    4. Energi dan bahan bakar, termasuk gas LPG yang sebagian besar distribusinya dipengaruhi harga internasional.

    Di tengah kondisi Rupiah melemah seperti ini, terdapat kesenjangan antara narasi pemerintah dengan realitas yang dihadapi masyarakat. Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya di Nganjuk, Jawa Timur, "Rakyat di desa nggak pakai dolar kok, ya kan?," ujarnya, sejalan dengan klaim bahwa fundamental ekonomi nasional masih kuat didukung oleh data pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61% pada triwulan I 2026. Sebagian pihak bahkan menyebutkan bahwa pelemahan Rupiah menguntungkan karena membuat produk Indonesia lebih kompetitif di pasar global.

    Di sisi lain, klaim pemerintah tersebut justru dibantah oleh sejumlah ahli ekonomi, Gigih Prihantono dari Universitas Airlangga menegaskan bahwa masyarakat Indonesia tetap memiliki ketergantungan pada barang impor, mulai dari bahan baku industri hingga barang konsumsi yang siap pakai, sehingga dampaknya tetap dirasakan meski masyarakat desa tidak bertransaksi menggunakan dolar. Kebutuhan pokok masyarakat seringkali berasal dari impor, ketika biaya impor melonjak, harga jual barang jadi di tingkat lokal akan mengalami kenaikan yang kemudian menciptakan tekanan ekonomi bagi kelompok masyarakat kelas menengah ke bawah di pedesaan.

    Melihat kontrasnya klaim pemerintah dengan realitas yang dihadapi masyarakat, Kampus Mania pasti bertanya-tanya, sebenarnya perlukah kita khawatir dengan melemahnya Rupiah? Apa sih yang menentukan nilai tukar Rupiah sampai selemah ini?

    Sebelum membahas mengenai pelemahan nilai tukar mata uang, Kampus Mania perlu memahami apa itu nilai tukar mata uang. Nilai tukar mata uang (kurs) merupakan salah satu indikator dalam perekonomian makro suatu negara. Kurs mencerminkan kondisi ekonomi domestik maupun hubungan ekonomi internasional suatu negara. Menurut Triyono (2008), ketika permintaan terhadap suatu mata uang meningkat, maka mata uang tersebut akan terapresiasi atau menguat. Sebaliknya, apabila penawaran mata uang lebih besar dibandingkan permintaannya, maka nilai mata uang akan mengalami depresiasi atau pelemahan. Oleh karena itu, perubahan nilai tukar akan sangat memengaruhi aktivitas ekonomi suatu negara, baik dalam sektor perdagangan, investasi, maupun stabilitas keuangan nasional.

    Salah satu nilai tukar mata uang yang menjadi indikator adalah nilai tukar mata uang Amerika Serikat (USD). USD merupakan salah satu mata uang yang banyak digunakan dalam perdagangan internasional. Perubahan nilai tukar mata uang terhadap USD akan sangat mempengaruhi perdagangan maupun investasi asing.

    Big Mac Index

    Sebelum melihat lebih jauh seberapa parah pelemahan Rupiah, Kampus Mania perlu memahami bahwa kekuatan suatu mata uang bersifat relatif. Membandingkan dua mata uang hanya lewat nilai kurs nominal saja bukanlah perbandingan yang apple-to-apple. Salah satu kerangka teoritis yang menjelaskan hal ini adalah Purchasing Power Parity (PPP), sebuah teori yang menguji sejauh mana kurs pasar menghasilkan harga barang yang sama di berbagai negara ketika dikonversi ke satu mata uang yang sama. Indikator paling populer dan mudah dipahami dari PPP adalah Big Mac Index yang diterbitkan The Economist sejak 1986. Logikanya sederhana, karena Big Mac (McDonald's) dibuat dengan komposisi yang relatif seragam di seluruh dunia, harga Big Mac di berbagai negara yang dikonversi ke dolar AS dapat dijadikan tolak ukur untuk membandingkan daya beli riil antarnegara.

    Berdasarkan data Big Mac Index edisi Juni 2026, harga Big Mac di Amerika Serikat tercatat US$6,12, sementara di Swiss mencapai US$9,21 dan di Taiwan hanya US$2,47, rentang inilah yang menjadi dasar perhitungan indeks. Dalam daftar tersebut, Indonesia berada di kelompok mata uang dengan harga Big Mac termurah di dunia dengan harga sekitar US$2,40 bersama India (US$2,40) dan Taiwan (US$2,47), yang berarti Rupiah tergolong sangat undervalued terhadap dolar AS. Big Mac yang murah bukan berarti biaya hidup kita juga murah, kondisi ini punya dua sisi yang bertolak belakang. Di satu sisi, Indonesia memang jadi tempat liburan serba murah bagi turis berbekal dolar. Namun di sisi lain, hal ini justru menjadi tamparan bahwa uang kita sedang kehilangan kekuatannya di mata dunia dan daya beli masyarakat lokal sebenarnya sedang melemah.

    Namun, Big Mac Index hanya menunjukkan gambaran sekilas dari posisi Rupiah dan belum bisa menggambarkan seberapa cepat Rupiah kita melemah belakangan ini. Oleh karena itu, kita perlu melihat langsung data pergerakannya terhadap dolar AS. Jika melihat nilai tukar Rupiah (IDR) terhadap USD, terjadi pelemahan yang cukup signifikan pada 2026. Nilai Rupiah melemah ~8,64% saat berada di angka tertinggi Rp18.171 pada 8 Juni 2026 dibandingkan Rp16.725 pada 1 Januari 2026.

    Faktor Pertama: Eksternal

    Group 1000003661.png

    Penurunan nilai tukar Rupiah tentu tidak terjadi begitu saja, ada berbagai aspek yang mempengaruhi nilai tukar mata uang. Salah satu indikator yang bisa digunakan adalah Kebijakan The Federal Reserve. Kebijakan The Federal Reserve diambil untuk menjaga nilai tukar USD. The Federal Reserve menjaga suku bunga tinggi dalam waktu yang lama (di angka 3,5%–3,75%). Suku bunga yang tinggi dapat menyebabkan terjadinya capital outflow di emerging market seperti Indonesia. Capital outflow merupakan kondisi dimana investor memindahkan asetnya ke luar dari suatu tempat. Pasar Amerika Serikat dengan suku bunga tinggi dinilai lebih menguntungkan bagi investor (karena termasuk dalam developed market dan memiliki kebijakan yang menjaga stabilitas pasar). Untuk menanggapi ini, Indonesia merespon dengan turut menaikkan suku bunga (BI-Rate berada di angka 5,5%). Imbasnya, emerging market menjadi lebih menarik, karena bunga lebih tinggi untuk investor.

    Faktor Kedua: Domestik

    proporsi_impor_bahan_pokok_pie.png

    Hingga saat ini, Indonesia mengimpor hampir seluruh kebutuhan pangan pokoknya. Pada tahun 2025, Indonesia mengimpor 11,76 juta ton gandum, 8,61 juta ton kedelai, 3,93 juta ton gula tebu, 349 ribu ton susu, dan 234 ribu ton daging sapi. Semua barang tersebut dibeli dengan dolar. Dolar yang harganya ditentukan oleh kurs.

    Kampus Mania, yang perlu dipahami adalah hampir tidak ada satu pun makanan sehari-hari yang bebas dari rantai impor. Hal tersebut dapat dilihat dari tahu dan tempe, makanan Indonesia yang selalu dikonsumsi setiap hari, dibuat dari kedelai yang 70% bahan utamanya diimpor dari luar negeri. Lalu, apa efeknya ke masyarakat?

    Bank Indonesia mencatat bahwa setiap Rupiah melemah 1% terhadap dolar, inflasi akibat harga impor naik 0,2 hingga 0,3 persen dalam jangka pendek. Menurut Data BPS per Maret 2024, pengeluaran makanan perkapita naik 5,69%, sementara inflasi untuk makanan dan minuman mencapai 7,43% setiap tahunnya. Pengeluaran total per kapita semakin tinggi, bukan karena masyarakat lebih banyak mengonsumsi makanan, tetapi karena harganya yang kini semakin naik dan naik.

    Faktor Ketiga: Sentimen Pasar

    Ketika pelemahan Rupiah ini memicu inflasi, suku bunga harus dinaikkan untuk mengendalikannya. Bank Indonesia sudah menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin sebagai respons terhadap tekanan nilai tukar. Kenaikan tersebut berdampak juga pada bunga KPR yang naik, cicilan bulanan bertambah, dan kemampuan bayar rumah tangga tertekan. Namun kenyataannya, bahkan setelah menaikkan suku bunga, pelemahan Rupiah masih terjadi. Indonesia masih dinilai sebagai market yang kurang stabil untuk menyimpan dana investasi dan capital outflow terus terjadi. Hal ini juga digambarkan oleh pasar saham Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan 38,22% dari 8.646 (30 Desember 2025) ke 5.342 (8 Juni 2026).

    Meskipun transaksi harian masyarakat desa menggunakan Rupiah, bukan dolar AS, dampak inflasi tetap meresap ke pedesaan melalui kenaikan harga pupuk (bahan baku impor), kenaikan bahan bakar, dan kenaikan bahan kebutuhan pokok yang bahan bakunya impor seperti kedelai untuk tempe dan tahu. Bhima Yudhistira dari CELIOS menjelaskan bahwa pelemahan Rupiah akan menjalar ke biaya hidup naik di desa melalui mekanisme ini. "Jangan dikira pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar, yang Rp17.600 itu, itu tidak akan menjalar ke biaya hidup yang naik di level desa," tegas Bhima kepada RMOL di Jakarta pada Sabtu, 16 Mei 2026.

    Seberapa serius sebenarnya kondisi ini?

    Dari sisi pertumbuhan ekonomi, Indonesia sebenarnya masih berjalan sesuai target. Bank Dunia dalam laporan Juni 2026 bahkan merevisi naik proyeksi pertumbuhan PDB Indonesia tahun ini menjadi 5,0%, lebih tinggi dari estimasi sebelumnya di awal tahun. Namun, di sisi lain, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) justru meningkat signifikan hingga 763,3% dibandingkan tahun sebelumnya. Pada Mei 2026, defisit APBN tercatat Rp180,4 triliun (0,70% PDB), sedangkan pada periode yang sama tahun 2025 hanya Rp20,9 triliun (0,09% PDB). Ditambah lagi, mengingat besarnya ketergantungan Indonesia pada impor bahan pangan pokok seperti yang sudah dibahas sebelumnya, pelemahan Rupiah yang berkepanjangan berpotensi terus menekan harga kebutuhan sehari-hari masyarakat.

    Salah satu langkah yang diambil Bank Indonesia untuk merespons pelemahan ini adalah menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate), yang kini berada di level 5,5% setelah dinaikkan pada 9 Juni 2026. Logikanya, ketika BI-Rate naik, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) juga ikut naik. Sebagai contoh, yield SBN tenor 10 tahun sudah naik ke kisaran 7,4%, jauh lebih tinggi dibanding awal tahun yang masih di angka 6,0%. Imbalan hasil yang lebih tinggi ini membuat aset investasi berbasis Rupiah menjadi lebih menarik bagi investor asing, sehingga mendorong masuknya aliran modal yang pada akhirnya membantu menahan laju pelemahan kurs.

    Namun, kebijakan ini bukan tanpa risiko. Kenaikan BI-Rate turut mendorong naiknya bunga cicilan bank seperti KPR yang berpotensi menekan daya beli dan melemahkan konsumsi rumah tangga yang notabenenya merupakan komponen penyumbang terbesar PDB Indonesia.

    Jadi, perlukah kita khawatir? Kita tetap harus waspada. Setiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah untuk menstabilkan kurs punya konsekuensi tersendiri terhadap kondisi pertumbuhan ekonomi kita.

    Referensi

    1. https://www.bi.go.id/id/statistik/informasi-kurs/jisdor/default.aspx
    2. https://mail.lodpost.com/pelemahan-nilai-tukar-Rupiah-dan-dampak-kenaikan-harga-barang-berita-terkini-mei-2026-26573
    3. https://inikata.co.id/dampak-Rupiah-melemah-terhadap-ekonomi-nasional-dan-harga-barang-di-2026
    4. https://pusatdata.kontan.co.id/infografik/239/BI-Rate-Mei-2026-Naik-50-Bps-Jadi-525-di-Tengah-Pelemahan-Rupiah
    5. https://www.mappr.co/thematic-maps/big-mac-index/
    6. https://bigmacindex.app/
    7. https://satudata.kemendag.go.id/data-informasi/perdagangan-dalam-negeri/nilai-tukar
    8. https://ekonomi.bisnis.com/read/20260518/99/1974523/sederet-komoditas-pangan-indonesia-yang-masih-dibeli-pakai-dolar-as
    9. https://www.pojokpapua.id/ihsg-melemah-level-5342-8-juni-2026
    10. https://www.tempo.co/ekonomi/ihsg-menguat-ke-level-8-646-di-penutupan-tahun-2025-2103242
    11. https://rmol.id/bisnis/read/2026/05/17/707424/hati-hati-pelemahan-Rupiah-juga-bisa-hantam-warga-desa
    12. https://nasional.kontan.co.id/news/defisit-apbn-naik-signifikan-per-mei-2026-menkeu-purbaya-klaim-fiskal-aman
    13. https://ekonomi.espos.id/world-bank-proyeksi-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-jadi-5-pada-2026-2223515
    14. https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260609123802-78-1367030/bi-rate-naik-55-persen-per-9-juni-2026/amp
    15. https://investasi.kontan.co.id/news/yield-sbn-tembus-74-investor-bisa-mulai-akumulasi-bertahap
    TagsRupiahIndonesiaBig Mac IndexKurs DolarInflasiBank IndonesiaBI-RateEkonomi MakroIHSGAPBNImpor2026
    Management Board 8EH Radio ITB

    Written by

    Management Board 8EH Radio ITB